Mahar adalah penata musik setiap lagu yang kami bawakan dan racun pada setiap aransemennya menyengat ketika ia memainkan melodi dengan sitarnya. Ia berimprovisasi, berdiri di tengah pertunjukan, dan dengan wajah demikian syahdu ia mengekspresikan setiap denting senar sitar yang bercerita tentang daun-daun pohon bintang yang melayang jatuh di permukaan Sungai Lenggang yang tenang lalu hanyut sampai jauh ke muara, tentang angin selatan yang meniup punggung Gunung Selumar, berbelok dalam kesenyapan Hutan Jangkang, lalu menyelinap diam-diam ke perkampungan. Ah, indahnya, pria muda ini memiliki konsep yang jelas bagaimana seharusnya sebuah sitar berbunyi.

Mahar adalah arranger berbakat dengan musikalitas yang nakal. Ia piawai memilih lagu dan mengadaptasikan karakter lagu tersebut ke dalam instrumen-instrumen kami yang sederhana. Misalnya pada lagu Owner of a Lonely Heart karya group rock Yess. Mahar mengawali komposisinya dengan intro permainan solo tabla yang menghentak bertalu-talu dalam tempo tinggi. Ia mengajari Syahdan menyelipkan-nyelipkan warna tabuhan Afrika dan padang pasir pada fondasi tabuhan gaya suku Sawang. Sangat eksotis. Gebrakan solo Syahdan seumpama garam bagi mereka yang darah tinggi: berbahaya, beracun, dan memicu adrenalin. Syahdan mengudara sendirian dengan letupan-letupan yang menggairahkan sampai beberapa bar.

Lalu Syahdan menurunkan sedikit tempo bahana tabla-nya dan pada momen itu, kami — para pemain rebana dan dua pemain tabla lainnya-pelan-pelan masuk secara elegan mendampingi suara tabla Syahdan yang surut, namun tak lama kemudian kembali bereskalasi menjadi tempo yang semakin cepat, semakin garang, semakin ganas memuncak. Kami menghantam tabuh-tabuhan ini sekuat tenaga dengan tempo secepat-cepatnya beserta semangat Spartan, para penonton menahan napas karena berada dalam tekanan puncak ekstase, lalu tepat pada puncak kehebohan, suara alat-alat perkusi ini secara mendadak kami hentikan, tiga detik yang diam, lengang, sunyi, dan senyap. Ketika penonton mulai melepaskan kembali napas panjangnya dengan penuh kenyamanan perlahan-lahan hadirlah dentingan sitar Mahar menyambut perasaan damai itu. Mahar melantunkan dawai sitar sendirian dalam nada-nada minor nan syahdu bergelombang seperti buluh perindu. Pilihan nada ini demikian indah hingga terdengar laksana aliran sungai-sungai di bawah taman surga. Dada terasa lapang seperti memandang laut lepas landai tak bertepi di sebuah sore yang jingga. Pada bagian ini biasanya penonton menghambur ke bibir panggung. Lalu Mahar meningkahi sitar dengan intonasi naik turun dalam jangkauan hampir empat oktaf. Dengan gaya India klasik, Mahar berimprovisasi. Ia memainkan sitar dengan sepenuh jiwa seolah esok ia telah punya janji pasti dengan malaikat maut.

Matanya terpejam mengikuti alur skala minor yang menyentuh langsung bagian terindah dari alam bawah sadar manusia yang mampu menikmati sari pati manisnya musik. Jemarinya yang kurus panjang mengaduk-aduk senar sitar dengan teknik yang memukau. Ia menyerahkan segenap jiwa raganya, terbang dalam daya bius melodi musik. Suara sitar itu menyayat-nyayat, berderai-derai seperti hati yang sepi, meraung-raung seperti jiwa yang tersesat karena khianat cinta, merintih seperti arwah yang tak diterima bumi. Rendah, tinggi, pelan, kencang, berbisik laksana awan, marah laksana topan, memekakkan laksana ledakan gunung berapi, lalu diam tenang laksana danau di tengah rimba raya. Semakin lama semakin keras dan semakin cepat, kembali memuncak, semakin lama semakin tinggi dan pada titik nadirnya Trapani serta-merta menyambut dengan sorak melengking melalui tiupan seruling, panjang, satu not, menjerit-jerit nyaring pada tingkat nada tertinggi yang dapat dicapai seruling bambu tradisonal itu.

Mereka berdua bertanding, berlomba-lomba meninggikan nada dan mengeraskan suara instrumen masing-masing. Mereka seperti seteru lama yang menanggungkan dendam membara, seruling clan sitar saling menggertak, menghardik, dan membentak galak... namun dengan harmoni yang terpelihara rapi. Tiba-tiba, amat mengejutkan, sama sekali tak terduga, secara mendadak mereka break!

Tiga detik diam. Setelah itu serta-merta datang menyerbu, menyalak galak, menghambur masuk bertalu-talu seluruh suara alat musik: drum, standing bass, seluruh tabla, sitar, seruling, seluruh rebana, dan electone sekeras-kerasnya. Tepat pada puncak bahana seluruh alat musik secara mendadak kami break lagi, satu detik diam, napas penonton tertahan, lalu pada detik kedua Mahar meloncat seperti tupai, merebut mikrofon dan langsung menjerit-jerit menyanyikan lagu Owner of a Lonely Heart dalam nada tinggi yang terkendali. Para penonton histeris dalam sensasi, kemudian tubuh mereka terpatah-patah mengikuti hentakan-hentakan staccato yang dinamis sepanjang lagu itu.

Перейти на страницу:

Все книги серии Laskar Pelangi

Похожие книги