PN Timah mempekerjakan suku maskulin ini sebagai buruh yuka, yaitu penjahit karung timah, pekerjaan strata terendah di gudang beras. Dan mereka bahagia dengan sistem pembayaran setiap hari Senin. Sulit dikatakan uang itu akan bertahan sampai Rabu. Tak ada kepelitan mengalir dalam pembuluh darah arang Sawang. Mereka membelanjakan uang seperti tak ada lagi hari esok dan berutang seperti akan hidup selamanya.
Karena kekacauan persoalan manajemen keuangan ini, orang Sawang tak jarang menjadi korban stereotip di kalangan mayoritas Melayu. Setiap perilaku minus tak ayal langsung diasosiasikan dengan mereka. Diskredit ini adalah refleksi sikap diskriminatif sebagian orang Melayu yang takut direbut pekerjaannya karena malas bekerja kasar. Sejarah menunjukkan bahwa orang-orang Sawang memiliki integritas, mereka hidup eksklusif dalam komunitasnya sendiri, tak usil dengan urusan orang lain, memiliki etos kerja tinggi, jujur, dan tak pernah berurusan dengan hukum. Lebih dari itu, mereka tak pernah lari dari utang-utangnya. Orang Sawang senang sekali memarginalkan diri sendiri. Itulah sifat alamiah mereka. Bagi mereka hidup ini hanya terdiri atas mandor yang mau membayar mereka setiap minggu dan pekerjaan kasar yang tak sanggup dikerjakan suku lain. Mereka tak memahami konsep aristokrasi karena kultur mereka tak mengenal power distance. Orang yang tak memaklumi hal ini akan menganggap mereka tak tahu tata krama. Satu-satunya manusia terhormat di antara mereka adalah sang kepala suku, seorang shaman5 sekaligus dukun, dan jabatan itu sama sekali bukan hereditas.
PN memukimkan orang Sawang di Sebuah rumah panjang yang bersekat-sekat. Di situ hidup 30 kepala keluarga.Tak ada catatan pasti dari mana mereka berasal. Mungkinkah mereka belum terpetakan oleh para antropolog? Tahukah para pembuat kebijakan bahwa tingkat kelahiran mereka amat rendah sedangkan mortalitasnya begitu tinggi sehingga di rumah panjang hanya tertinggal beberapa keluarga yang berdarah murni Sawang? Akankah bahasa mereka yang indah hilang ditelan zaman?
Bab 15
TAMBANG hitam terbentang cekung di atas permukaan air berwarna cokelat yang bergelora. Ujung tambang yang diikat dengan sepotong kayu bercabang tersangkut ke sebuah dahan karet tua yang rapuh di tengah aliran sungai. Tadi Samson yang telah melemparkannya dengan gugup. Hampir tujuh belas meter jarak antara tepian sungai dan dahan karet tempat kayu satu meter itu tersangkut. Berarti lebar sungai ini paling tidak tiga puluh meter dan dalamnya hanya Tuhan yang tahu. Alirannya meluncur deras tergesa-gesa, tipikal sungai di Belitong yang berawal dan berakhir di laut. Bagian membujur permukaan sungai tampak berkilat-kilat disinari cahaya matahari. Sekarang ujung tambang satunya dipegangi A Kiong yang pucat pasi pada posisi melintang. Ia memanjat pohon kepang1 rindang yang berseberangan dengan pohon karet tadi dan menambatkan tali
pada salah satu cabangnya. Badanku gemetar ketika aku melintas menuju pohon karet dengan cara menggeser-geserkan genggaman tanganku yang mencekik tambang erat-erat. Aku bergelantungan seperti tentara latihan perang. Kadang-kadang kakiku terlepas dari tambang dan menyentuh permukaan air yang meliuk-liuk, membuat darahku dingin berdesir. Kulihat samar bayanganku di atas air yang keruh. Kalau aku terjatuh maka aku akan ditemukan tersangkut di akar-akar pohon bakau dekat jembatan Lenggang, lima puluh kilometer dari sini.
SEMUA susah payah melawan larangan orangtua itu hanyalah untuk memetik buah-buah karet dan demi sedikit taruhan harga diri dalam arena tarak. Atau barangkali perbuatan bodoh itu justru digerakkan oleh keinginan untuk membongkar rahasia buah karet yang misterius. Kekuatan kulit buah karet tak bisa diramalkan dari bentuk dan warnanya. Pada rahasia itulah tersimpan daya tarik permainan mengadu kekuatan kulitnya. Permainan kuno nan legendaris itu disebut tarak. Cuma ada satu hal yang agak berlaku umum, yaitu pohon-pohon karet yang buahnya sekeras batu selalu berada di tempattempat yang jauh di dalam hutan dan memerlukan nyali lebih, atau sikap nekat yang tolol, untuk mengambilnya.
Di dalam tarak, dua buah karet ditumpuk kemudian dipukul dengan telapak tangan. Buah yang tak pecah adalah pemenangnya. Inilah permainan pembukaan musim hujan di kampung kami, semacam pemanasan untuk menghadapi permainan-permainan lainnya yang jauh lebih seru pada saat air bah tumpah dari langit.