Pesona hakiki Pangkalan Punai membayangiku menit demi menit sampai terbawa-bawa mimpi. Mimpi ini kemudian kutulis menjadi sebuah puisi karena, sebagai bagian dari program berkemah, kami harus menyerahkan tugas untuk pelajaran kesenian berupa karangan, lukisan, atau pekerjaan tangan dari bahan-bahan yang didapat di pinggir pantai. Inilah puisiku.

Aku Bermimpi Melihat Surga

Sungguh, malam ketiga di Pangkalan Punai aku mimpi melihat surga

Ternyata surga tidak megah, hanya sebuah istana kecil di tengah hutan

Tidak ada bidadari seperti disebut di kitab-kitab suci

Aku meniti jembatan kecil

Seorang wanita berwajah jernih menyambutku

“Inilah surga” katanya.

Ia tersenyum, kerling matanya mengajakku menengadah

Seketika aku terkesiap oleh pantulan sinar matahari senja

Menyirami kubah-kubah istana

Mengapa sinar matahari berwarna perak, jingga, dan biru?

Sebuah keindahan yang asing

Di istana surga

Dahan-dahan pohon ara menjalar ke dalam kamar-kamar sunyi yang bertingkat-tingkat

Gelas-gelas kristal berdenting dialiri air zamzam

Menebarkan rasa kesejukan

Bunga petunia ditanam di dalam pot-pot kayu

Pot-pot itu digantungkan pada kosen-kosen jendela tua berwarna biru

Di beranda, lampu-lampu kecil disembunyikan di balik tilam, indah sekali

Sinarnya memancarkan kedamaian

Tembus membelah perdu-perdu di halaman

Surga begitu sepi

Tapi aku ingin tetap di sini

Karena kuingat janjimu Tuhan

Kalau aku datang dengan berjalan

ENGKAU akan menjemputku dengan berlari-lari

Dengan puisi ini, untuk pertama kalinya aku mendapat nilai kesenian yang sedikit lebih baik dari nilai Mahar, tapi hal itu hanya terjadi sekali itu saja. Puisiku ini membuktikan bahwa karya seni yang baik, setidaknya baik bagi Bu Mus, adalah karya seni yang jujur. Namun, aku punya cerita yang panjang dan kurasa cukup penting mengapa kali ini Mahar tidak mendapatkan nilai kesenian tertinggi seperti baisanya. Semua itu gara-gara sekawanan burung hebat nan misterius yang dinamai orang-orang Belitong sebagai burung pelintang pulau. Nama burung pelintang pulau selalu menarik perhatian siapa saja, di mana saja, terutama di pesisir. Sebagian orang malah menganggap burung ini semacam makhluk gaib. Nama burung ini mampu menggetarkan nurani orang-orang pesisir sehubungan dengan nilai-nilai mitos dan pesan yang dibawanya.

Burung pelintang pulau amat asing. Para pencinta burung lokal dan orang-orang pesisir hanya memiliki pengetahuan yang amat minim mengenai burung ini. Di mana habitatnya, bagaimana rupa dan ukuran aslinya, dan apa makanannya, selalu jadi polemik. Hanya segelintir orang yang sedang beruntung saja pernah melihatnya langsung. Burung ini tak pernah tertangkap hidup-hidup. Kerahasiaan burung ini adalah konsekuensi dari kebiasaannya. Nama pelintang pulau adalah cerminan kebiasaan burung ini terbang sangat kencang dan jauh tinggi melintang (melintasi) pulau demi pulau. Mereka hanya singgah sebentar dan selalu hinggap di puncak tertinggi dari pohon-pohon yang tingginya puluhan meter seperti pohon medang4 dan tanjung5. Singgahnya pun tak pernah lama, tidak untuk makan apa pun. Mereka sangat liar, tidak mungkin bisa didekati. Setelah hinggap sebentar dengan kawanan lima atau enam ekor mereka terburuburu terbang dengan kencang ke arah yang sama sekali tak dapat diduga. Banyak orang yang percaya bahwa mereka hidup di pulau-pulau kecil yang tak dihuni manusia. Sementara mitos lain mengatakan bahwa burung-burung ini hanya hinggap sekali saja pada sebuah kanopi di setiap pulau. Mereka menghabiskan sebagian besar hidupnya terbang tinggi di angkasa, melintas dari satu pulau ke pulau lain yang berjumlah puluhan di perairan Belitong.

Перейти на страницу:

Все книги серии Laskar Pelangi

Похожие книги