Tapi sedapat mungkin dengarlah versi Kenny Rogers dalam album Vote For Love Volume 1. Lagu cantik itu ada di trek pertama. Syair lagu itu kira-kira bercerita tentang seorang anak muda yang benci sekali jika disuruh gurunya membeli kapur tulis, sampai pada suatu hari ketika ia berangkat dengan jengkel untuk membeli kapur tersebut, tanpa disadarinya, nasib telah menunggunya di pasar ikan dan menyergapnya tanpa ampun.

Membeli kapur adalah salah satu tugas kelas yang paling tidak menyenangkan. Pekerjaan lain yang amat kami benci adalah menyiram bunga. Beragam familia pakis mulai dari kembang tanduk rusa sampai puluhan pot suplir kesayangan Bu Mus serta rupa-rupa kaktus topi uskup, Parodia, dan Mammillaria harus diperlakukan dengan sopan seperti porselen mahal dari Tiongkok. Belum lagi deretan panjang pot amarilis, kalimatis, azalea, nanas sabrang, Calathea, Stromanthe, Abutilon, kalmus, damar kamar, dan anggrek Dendrobium8 dengan berbagai variannya. Berlaku semena-mena terhadap bunga-bunga ini merupakan pelanggaran serius.

“Ini adalah bagian dari pendidikan!” pesan Bu Mus serius.

Masalahnya adalah mengambil air dari dalam sumur di belakang sekolah merupakan pekerjaan kuli kasar. Selain harus mengisi penuh dua buah kaleng cat 15 kilogram dan pontang-panting memikulnya, sumur tua yang angker itu sangat mengerikan. Sumur itu hitam, berlumut, gelap, dan menakutkan. Diameternya kecil, dasarnya tak kelihatan saking dalamnya, seolah tersambung ke dunia lain, ke sarang makhluk jadi-jadian. Beban hidup terasa berat sekali jika pagi-pagi sekali harus menimba air dan menunduk ke dalam sumur itu.

Hanya ketika menyirami bunga stripped canna beauty aku merasa sedikit terhibur. Ah, indahnya bunga yang semula tumbuh liar di bukit-bukit lembap di Brazil ini. Masih dalam familia Apocynaceae maka agak sedikit mirip dengan alamanda tapi strip-strip putih pada bunganya yang berwarna kuning adalah daya tarik tersendiri yang tak dimiliki jenis canna lain. Daun hijaunya yang menjulur gemuk-gemuk kontras dengan gradasi warna kuntum bunga sepanjang musim, menghadirkan pesona keindahan purba. Orang Parsi menyebutnya bunga surga. Jika ia merekah maka dunia tersenyum. Ia adalah bunga yang emosional, maka menyiramnya harus berhati-hati. Tidak semua orang dapat menumbuhkannya. Konon hanya mereka yang bertangan dingin, berhati lembut putih bersih yang mampu membiakkannya, ialah Bu Muslimah, guru kami.

Kami memiliki beberapa pot stripped canna beauty dan sepakat menempatkannya pada posisi yang terhormat di antara tanaman-tanaman kerdil nan cantik Peperomia, daun picisan, sekulen, dan

Ardisia. Ketika tiba musim bersemi bersamaan, maka tersaji sebuah pemandangan seperti kue lapis di dalam nampan. Aku selalu tergesa-gesa menyirami bunga biar tugas itu cepat selesai, namun jika tiba pada bagian canna itu dan para tetangganya tadi, aku berusaha setenang-tenangnya. Aku menikmati suatu lamunan, menduga-duga apa yang dibayangkan orang jika berada di tengah-tengah surga kecil ini. Apakah mereka merasa sedang berada di taman Jurassic?

Aku melihat sekeliling kebun bunga kecil kami. Letaknya persis di depan kantor kepala sekolah. Ada jalan kecil dari batu-batu persegi empat menuju kebun ini. Di sisi kiri kanan jalan itu melimpah ruah Monstera, Nolina, Violces, kacang polong, cemara udang, keladi, begonia, dan aster yang tumbuh tinggi-tinggi serta tak perlu disiram. Bunga-bunga ini tak teratur, kaya raya akan nektar, berdesak-desakan dengan bunga berwarna menyala yang tak dikenal, bermacam-macam rumput liar, kerasak, dan semak ilalang.

Перейти на страницу:

Все книги серии Laskar Pelangi

Похожие книги