Sesungguhnya maksud kami bukan itu. Tapi kami senewen menanggungkan gatal. Penonton yang tidak memahami situasi mengira suara tabla itu mengandung sihir dan telah membuat kami, delapan ekor sapi ini, kesurupan, maka mereka bertepuk tangan gegap gempita karena kagum dengan daya magis tarian Afrika. Mereka berteriak-teriak histeris memberi semangat dan salut kepada kami yang mampu mencapai penghayatan setinggi itu. Penonton semakin merapat dan petinggi di podium kehormatan menghambur ke depan meninggalkan tempat-tempat duduknya yang teduh dan nyaman. Mereka berebutan menyaksikan kami dari dekat. Mereka takjub dengan sebuah pemandangan aneh. Bagi mereka ini adalah ekspresi seni yang luar biasa. Sementara kami semakin tungganglanggang, berputar-putar seperti gasing. Kami sudah tak peduli dengan pantun Afrika yang harusnya kami lantunkan. Teriakan kami sekarang menjadi:
“Hushhhhhhh... hushh... hushhhh! Habbaa... habbbaaa... habbaaaa...!!!”
Penonton malah mengira itu mantra-mantra gaib. Aku melirik Mahar. Aneh sekali, wajahnya tapak senang tak alang kepalang, gembira bukan main. Ia tampak sangat setuju dengan seluruh gerakan gila kami walaupun tidak seperti yang dilatihkannya dulu.
“Terus Kawan, hebat sekali, ayo berguling-guling, inilah maksudnya,” bisiknya di antara kami sambil berlari-lari memikul tabla. Aku mulai curiga. Tapi aku tak sempat berpikir jauh karena kami sekarang sedang diserang oleh dua puluh ekor cheetah. Suasana semakin seru. Kami semakin sinting karena gatal dan panas. Kami merasa sangat haus, menderita dehidrasi. Ketika cheetah meneyrang, kami berbalik menyerang. Kami sudah lupa diri. Seharusnya hal ini tak terjadi. Skenarionya tidak begitu.
Skenarionya adlaah kami seharusnya menguik-nguik ketakutan sampai prajurit Masai, Moran yang gagah berani itu, datang sebagai pahlawan untuk menyelamatkan kami. Tapi sebaliknya sekarang kami dengan beringas membalas serangan cheetah karena kami tak mungkin diam, jika diam rasa gatal rasanya akan memecahkan pembuluh darah kami.
Para cheetah kebingungan. Ketika mereka menerjang kami membalas, cheetah berlari kocar-kacir dan kembali menyerang, demikian terjadi berulang-ulang. Namun anehnya skenario yang kacau balau tak direncanakan ini justru memunculkan karakter asli binatang yang pada suatu ketika bisa demikian ganas tanpa ampun dan pada keadaan yang lain terbirit-birit ketakutan jika kekuatannya tak berimbang. Sebaliknya sekali lagi kulirik Mahar. Ia senang sekali dengan improvisasi spontan ini, tabuhan tablanya semakin ganas. Senyumnya mengembang. Tak pernah aku melihatnya sebahagia itu. Surai kuda, selendang yang melilit pinggang, dan mahkota kami melambai-lambai eksotis karena kami melonjak-lonjak tak terkendali. Kami menari seperti orang dirasuki iblis yang paling jahat, seperti ditiup Lucifer sang raja hantu. Arena semakin membara dan gairah tarian mendidih ketika dua puluh prajurit Masai menyerbu masuk untuk menyelamatkan kami, yang terjadi adalah pertarungan dahsyat antara sapi dan prajurit Masai melawan dua puluh ekor cheetah. Ada enam puluh penari termasuk pemain tabla yang sekarang saling menyerang dalam hentakan musik Masai. Penonton riuh rendah dalam kekaguman. Para fotografer sampai kehabisan film. Pasir-pasir halus yang bertaburan di atas arena membubung menjadi debu tebal yang mengaburkan pandangan. Debu itu mengelilingi kami yang berputar seperti pusaran angin. Di tengah pusaran itu kami bertempur habis-habisan dalam sebuah ritual liar alam Afrika yang kami tarikan seperit binatang buas yang terluka. Dalam kekacaubalauan terdengar teriakan-teriakan hsiteris, auman binatang, dan suara tabla berdentum-dentum. Keseluruhan koreografi yang menampilkan fragmen pertempuran manusia melawan binatang dengan gerakan spontan di depan podium kehormatan itu ternyata menghasilkan karya seni yang sulit dilukiskan dengan katakata. Sebuah formasi gerakan chaos orisinal yang tercipta secara tidak sengaja. Para penonton tersihir melihat kami trance secara kolektif, mereka tersentak dalam histeria menyaksikan pemandangan magis yang menkjubkan. Sebuah pemandangan eksotis dari totalitas tarian yang menciptakan efek seni yang luar biasa. Sebuah efek seni yang memang diharapkan Mahar, efek seni yang akan membawa kami menjadi Penampil Seni Terbaik tahun ini, tak diragukan, tak ada bandingannya.
Pak Harfan, Bu Mus, dan guru-guru kami sangat bangga dan seolah tak percaya melihat murid-muridnya memiliki kemampuan seperti itu. Mereka tak sadar bahwa kami menderita berat karena gatal dan gerakan kami tak ada hubungannya dengan Moran, cheetah, dan bunyi-bunyian tabla yang memecah gendang telinga. Tiga puluh menit kami tampil serasa tiga puluh jam. Kami, para sapi, memang dirancang untuk meninggalkan arena pertama kali.