Pemain tabla, cheetah, dan prajurit Masai masih harus melanjutkan fragmen. Segera setelah meninggalkan arena kami berlari pontang panting mencari air. Sayangnya air terdekat adalah sebuah kolam kangkung butek di belakang sebuah toko kelontong. Kolam itu adalah tempat pembuangan akhir ikan-ikan busuk yang tak laku dijual. Apa boleh buat, kami ramai-ramai menceburkan diri di sana. Kami tak melihat ketika penonton memberikan standing applause selama tujuh menit. Kami tak menyaksikan guru-guru kami menangis karena bangga. Aku kagum kepada Mahar, ia berhasil memompa kepercayaan diri kami dan dengan kepercayaan diri ternyata siapa pun dapat membuat prestasi yang mencengangkan. Hal itu dibuktikan oleh sekolah Muhammadiyah yang mampu mematahkan mitos bahwa sekolah kampung tidak mungkin menang melawan sekolah PN dalam karnaval. Sayangnya saat itu kami tak dapat bergembira seperti warga Muhammadiyah di podium dan kami jgua tak mendengar ketika ketua dewan juri, Mbah Suro, naik mimbar. Beliau mengucapkan pidato panjang puji-pujian untuk kami:
“Sekolah Muhammadiyah telah menciptakan daripada suatu arwah baru dalam karnaval ini. Maka dari itu mereka telah mencanangkan suatu daripada standar baru yang semakin kompetitif dari pada mutu festival seni ini. Mereka mendobrak dengan ide kreatif, tampil all out, dan berhasil menginterpretasikan dengan sempurna daripada sebuah tarian dan musik dari negeri yang jauh. Para penarinya tampil penuh penghayatan, dengan spontanitas dan totalitas yang mengagumkan sebagai suatu manifestasi daripada penghargaan daripada mereka terhadap seni pertunjukan itu sendiri. Penampilan Muhammadiyah tahun ini adalah daripada suatu puncak pencapaian seni yang gilang gemilang dan oleh karena itu dewan juri tak punya daripada pilihan lain selian daripada menganugerahkan penghargaan daripada penampila seni terbaik tahun ini kepada sekolah Muhammadiyah!”
Wahai dewan juri yang terhormat, mari kuberitahukan pada bapak-bapak sekalian, tahu apa bapak-bapak soal seni, interpretasi seni kami adlaah interpretasi getah buah aren yang gatalnya membakar lingkaran leher kami sampai ke pangkal-pangkal paha dengan perasaan seperti memakan api. Itulah yang membuat kami menari seperti orang yang tidak waras, dan tiulah interpretasi seni kami. Mendengar pidato itu para penonton kembali bergemuruh dan seluruh warga Muhammadiyah bersorak-sorai senang karena sebuah kemenangan yang fenomenal.
Sebaliknya kami, delapan ekor ternak dalam koreografi hebat itu, tetap tak tahu semua kejadian yang menggemparkan itu, dan kami juga masih tak tahu ketika Mahar diarak warga Muhammadiyah setelah sekolah menerima trofi bergengsi Penampil Seni Terbaik tahun ini. Trofi yang telah dua puluh tahun kami idamakan dan selama itu pula bercokol di sekolah PN. Baru pertama kali ini trofi itu dibawa pulang oleh sekolah kampung. Trofi yang tak ‘kan membuat sekolah kami dihina lagi.
Kami tak tahu semua itu karena ketika itu kami sedang berkubang di dalam lumpur kolam kangkung, menggosok-gosok leher dengan daun genjer. Yang kami tahu hanyalah bahwa Mahar telah membalas kami dengan setimpal karena pelecehan kami padanya selama ini. Buah-buah aren itu sungguh merupakan sebuah rancangan kalung etnik properti adi busana koreografi yang bernilai seni, hasil perenungan Mahar berjam-jam sambil memandangi langit di bawah pohon filicium. Itulah sebuah perenungan tingkat tinggi yang membuat hatinya bergejolak sepanjang malam karena girang akan memberi kami pelajaran, sebuah perenungan pembalasan dendam yang telah ia rencanakan dengan rapi selama bertahuntahun. Wajah manisnya pasti sedang tersenyum sekarang dan senyumnya tak berhenti mengembang jika ia ingat penderitaan kami. Di kolam busuk luar biasa sehingga merontokkan bulu hidung ini kami membayangkan Mahar melonjak-lonjak girang disirami sinar agung prestasi dan kata-kata pujian setinggi langit. Sedangkan kami agaknya memang patut dihukum di kolam perut ikan ini. Mahar membalas kami sekaligus merebut penghargaan terbaik — sekali tepuk dua nyamuk tumbang. Pria muda yang nyeni itu memang genius luar baisa, dan baginya pembalasan ini maniiiiis sekali, semanis buah bintang.
Bab 20
AWAN-AWAN kapas berwarna biru lembut turun. Mengapung rendah ingin menyentuh permukaan laut yang surut jauh, beratusratus hektare luasnya, hanya setinggi lutut, meninggalkan pohonpohon kelapa yang membujur di sepanjang Pantai Tanjong Kelayang. Aku tahu bahwa awan-awan kapas biru muda itu dapat menjadi penghibur bagi mataku, tapi dia tak kan pernah menjadi sahabat bagi jiwaku, karena sejak minggu lalu aku telah menjadi sekuntum daffodil1 yang gelisah, sejak kukenal sebuah kosakata baru dalam hidupku: rindu.