Secara umum kebun bunga kami mengensankan taman yang dirawat sekaligus kebun yang tak terpelihara, dan hal ini justru seca-ra tak sengaja menghadirkan paduan yang menarik hati. Latar belakang kebun itu adalah sekolah kami yang doyong, seperti bangunan kosong tak dihuni yang dilupakan zaman. Semuanya memperkuat kesan sebuah paradiso liar, keeksotisan tropika. Lalu merambat pada tiang lonceng adalah dahan jalar labu air. Seperti tangan raksasa ia menggerayangi dinding papan pelepak sekolah kami, tak terbendung menujangkau-jangkau atap sirap yang terlepas dari pakunya. Sebagian dahannya merambati pohon jambu air mawar18 dan delima19 yang meneduhi atap kantor itu. Cabangcabang buah muda labu air terkulai di depan jendela kantor sehingga dapat dijangkau tangan. Burung-burung gelatik rajin bergelantungan di situ. Sepanjang pagi tempat itu riuh rendah oleh suara kumbang dan lebah madu. Jika aku memusatkan pendengaran pada dengungan ribuan lebah madu itu, lama-kelamaan tubuhku seakan kehilangan daya berat, mengapung di udara. Itulah kebun sekolah muhammadiyah, indah dalam ketidakteraturan, seperti lukisan Kandinsky. Kalau bukan gara-gara sumur sarang jin yang horor itu, pekerjaan menyiram bunga seharusnya bisa menjadi tugas yang menyenangkan. Namun, tugas membeli kapur adalah pekerjaan yang jauh lebih horor. Toko Sinar Harapan, pemasok kapur satu-satunya di Belitong Timur, amat jauh letaknya. Sesampainya di sana — di sebuah toko yang sesak di kawasan kumuh pasar ikan yang becek — jika perut tidak kuat, siapa pun akan muntah karena bau lobak asin, tauco, kanji, kerupuk udang, ikan teri, asam jawa, air tahu, terasi, kembang kol, pedak cumi, jengkol, dan kacang merah yang ditelantarkan di dalam baskom-baskom karatan di depan toko.
Jika berani masuk ke dalam toko, bau itu akan bercampur dengan bau plastik bungkus mainan anak-anak, aroma kapur barus yang membuat mata berair, bau cat minyak, bau gaharu, bau sabun colek, bau obat nyamuk, bau ban dalam sepeda yang bergelantungan di sembarang tempat di seantero toko, dan bau tembakau lapuk di atas rak-rak besi yang telah bertahun-tahun tak laku dijual. Dagangan yang tak laku ini tidak dibuang karena pemiliknya menderita suatu gejala psikologis yang disebut hoarding, sakit gila no. 28, yaitu hobi aneh mengumpulkan barang-barang rongsokan tak berguna tapi sayang dibuang. Seluruh akumulasi bau tengik itu masih ditambah lagi dengan aroma keringat kuli-kuli panggul yang petantang-petenteng membawa gancu, ingar-bingar dengan bahasanya sendiri, dan lalu-lalang seenaknya memanggul karung tepung terigu.
Belum seberapa, pusat bau busuk yang sesungguhnya berada di los pasar ikan yang bersebelahan langsung dengan Toko Sinar Harapan. Di sini ikan hiu dan pari disangkutkan pada cantolan paku dengan cara menusukkan banar mulai dari insang sampai ke mulut binatang malang itu, sebuah pemandangan yang mengerikan. Bau amis darah menyebar ke seluruh sudut pasar. Perut-perut ikan dibiarkan bertumpuk-tumpuk di sepanjang meja, berjejal tumpah berserakan di lantai yang tak pernah dibersihkan. Dan bau yang paling parah berasal dari makhluk-makhluk laut hampir busuk yang disimpan dalam peti-peti terbuka dengan es seadanya. Pagi itu giliran aku dan Syahdan berangkat ke toko bobrok itu. Kami naik sepeda dan membuat perjanjian yang bersungguh-sungguh, bahwa saat berangkat ia akan memboncengku. Ia akan mengayuh sepeda setengah jalan sampai ke sebuh kuburan Tionghoa. Lalu aku akan menggantikannya mengayuh sampai ke pasar. Nanti pulangnya berlaku atruan yang sama. Suatu pengaturan tidak masuk akal yang dibuat oleh orang-orang frustrasi. Ditambah lagi satu syarat cerewet lainnya, yaitu setiap jalan menanjak kami harus turun dari sepeda lalu sepeda dituntun bergantian dengan jumlah langkah yang diperhitungkan secara teliti.
Tubuh Syahdan yang kecil terlonjak-lonjak di atas batang sepeda laki punya Pak Harfan saat ia bersusah payah mengayuh pedal. Sepeda itu terlalu besar untuknya sehingga tampak seperti kendaraan yang tak bisa ia kuasai, apalagi dibebani tubuhku di tempat duduk belakang. Namun, ia bertekad terus mengayuh sekuat tenaga. Siapa pun yang melihat pemandangan itu pasti prihatin sekaligus tertawa. Tapi suasana hatiku sedang tidak peka untuk segala bentuk komedi. Aku duduk di belakang, tak acuh pada kesusahannya.
“Turun dulu, tuan raja ...,” Syahdan menggodaku ketika sepeda kami menanjak.