A Miauw sendiri adalah sesosok teror. Pira yang sok mendapat hoki ini sangat berlagak bagai bos. Tubuhnya gendut dan ia selalu memakai kaus kutang, celana pendek, dan sandal jepit. Di tangannya tak pernah lepas sebuah buku kecil panjang bersampul otif batik, buku utang. Pensil terselip di daun telinganya yang berdaging seperti bakso dan di atas mejanya ada sempoa besar yang jika dimainkan bunyinya mampu merisaukan pikiran.
Tokonya lebih cocok jika disebut gudang rabat. Ratusan jenis barang bertumpuk-tumpuk mencapai plafon di dalam ruangan kecil yang sesak. Selain berbagai jenis sayur, buah, dan makanan di dalma baskom-baskom karatan tadi, toko ini juga menjual sajadah, asinan kedondong dalma stopelas-stoples tua, pita mesin tik, dan cat besi dengan bonus kalender wanita berpakaian seadanya.Di dalam sebuah bufet kaca panjang dipajang bedak kerang pemutih wajah murahan, tawas, mercon, peluru senapan angin, racun tikus, kembang api, dan antena TV. Jika kita terburu-buru membeli obat diare cap kupu-kupu, maka jangan harap A Miauw dapat segera menemukannya. Kadang-kadang ia sendiri tak tahu di mana puyer itu disimpan. Ia seperti tertimbun dagangan dan tenggelam di tengah pusaran barang-barang kelontong.
“Kiak-kiak!”
A Miauw memanggil tak sabar, dan Bang Sad tergopoh-gopoh menghampirinya.
“Magai di Manggara masempo linna?”
Orang-orang bersarung keberatan ketika mengamati harga kaus lampu petromaks. Di Manggar lebih murah kata mereka.
“Kito lui, ba? Ngape de Manggar harge e lebe mura?”
Bang Sad menyampaikan keluhan itu pada juragannya dalam bahasa Kek campur Melayu.
Aku sudah muak di dalam toko bau ini tapi sedikit terhibur dengan percakapan tersebut. Aku baru saja menyaksikan bagaimana kompleksitas perbedaan budaya dalam komunitas kami didemonstrasikan. Tiga orang pria dari akar etnik yang sama sekali berbeda berkomunikasi dengan tiga macam bahasa ibu masing-masing, campur aduk.
Orang-orang yang berjiwa penuh prasangka akan menduga A Miauw sengaja merekayasa konfigurasi komunikasi seperti itu untuk keuntungannya sendiri, namun mari kugambarkan sedikit kepribadian A Miauw. Ia memang pria congkak dengan intonasi bicara tak enak didengar, wajahnya juga seperti orang yang selalu ingin memerintah, kata-katanya tidak bersahabat, dan badannya bau tengik bawang putih, tapi ia adalah seorang Kong Hu Cu yang taat dan dalam hal berniaga ia jujur tak ada bandingannya. Maka dalam harmoni masyarakat kami, warga Tionghoa adalah pedagang yang efisien. Adapun para produsen berada di negeri antah berantah, mereka hanya kami kenal melalui tulisan made in... yang tertera di buntut-buntut panci. Orang-orang Melayu adalah kaum konsumen yang semakin miskin justru semakin konsumtif. Sedangkan orang-orang pulau berkerudung tadi adalah para pembuka lapangan kerja musiman bagi warga suku Sawang yang memanggil belanjaan mereka.
“Segere! Siun! Siun!” hardik tiga orang Sawang, kuli panggul, yang numpang lewat, membuyarkan lamunanku. Mereka adalah kawan yang telah lama kukenal. Dolen, Baset, dan Kunyit, begitulah nama mereka. Agaknya urusan A Miauw dengan orang-orang berkerudung itu telah selesai dan sekarang masuklah ia ke transaksi kapur.
“Aya...ya..., Muhammadiyah! Kapur tulis!” keluh A Miauw menarik napas panjang, seolah kami hanya akan merusak hokinya.