Setelah itu, setiap sore, di bawah pohon filicium, kami bekerja keras berhari-hari melatih tarian aneh dari negeri yang jauh. Sesuai dengan arahan Mahar tarian ini harus dilakukan dengan gerakan cepat penuh tenaga. Kaki dihentakkan-hentakkan ke bumi, tangan dibuang ke langit, berputar-putar bersama membentuk formasi lingkaran, kemudian cepat-cepat menunduk seperti sapi akan menanduk, lalu melompat berbalik, lari semburat tanpa arah dan mundur kembali ke formasi semula dengan gerakan seperti banteng mundur. Kaki harus mengais tanah dengan garang. Demikian berulang-ulang. Tak ada gerakan santai atau lembut, semuanya cepat, ganas, rancak, dan patah-patah. Mahar menciptakan koreografi yang keras tapi penuh nilai seni. Asyik ditarikan dan merupa-kan olah raga yang menyehatkan.

Tahukah Anda apa yang dimaksud dengan bahagia? Ialah apa yang aku rasakan sekarang. Aku memiliki minat besar pada seni, akan membuat sebuah performing art bersama para sahabat karib —

dan kemungkinan ditonton oleh cinta pertama? Aku mengalami kebahagiaan paling besar yang mungkin dicapai seorang laki-laki muda.

Kami sangat menyukai gerakan-gerakan enerjik rekaan Mahar dan kuat dugaanku bahwa kami sedang menarikan kegembiraan suku Masai karena sapi-sapi peliharaannya baru saja beranak. Selain itu selama menari kami harus meneriakkan kata-kata yang tak kami pahami artinya seperti, “Habuna! Habuna! Habuna! Baraba... baraba...baraba..habba...habba..homm!”

Ketika kami tanyakan makna kata-kata itu, dengan gaya seperti orang memiliki pengetahuan yang amat luas sampai melampaui benua Mahar menjawab bahwa itulah pantun orang Afrika. Aku baru tahu ternyata orang Afrika juga memiliki kebiasaan seperti orang Melayu, gemar berpantun. Aku simpan baik-baik pengetahuan ini. Namun mengenai maksud, ternyata aku salah duga. Semula aku menyangka bahwa kami berdelapan — karena Sahara tak ikut dan Mahar sendiri menjadi pemain tabla — adalah anggota suku Masai yang gembira karena sapi-sapinya beranak. Tapi ternyata kami adalha sapi-sapi itu sendiri. Karena setelah kami menari demikian riang gembira, kemudian kami diserbu oleh dua puluh ekor cheetah. Mereka mengepung, mencabik-cabik harmonisasi formasi tarian kami, meneror, menerkam, mengelilingi kami, dan mengaum-aum dengan garang. Lalu situasi menjadi kritis dan kacau balau bagi paras api dan pada saat itulah menyerbu dua puluh orang Moran atau prajurit Masai yang sangat terkenal itu. Prajurit-prajurit ini menyelamatkan para sapi dan berkelahi dengan cheetah yang menyerang kami. Gerakan cheetah itu direka-reka Mahar dengan sangat genius sehingga mereka benar-benar tampak seperti binatang yang telah tiga hari tidak makan. Sedangkan para Moran dilatih lebih khusus sebab menyangkut keterampilan memainkan properti-properti seperti tombak, cambuk, dan parang. Demikianlah cerita koreografi Mahar. Keseluruhan fragmen itu diiringi oleh tabuhan tiga puluh tabla yang lantang bertalu-talu memecah langit. Para penabuh tabla juga menari-nari dengan gerakan dinamis memesona. Hasil akhirnya adalah sebuah drama seru pertarungan massal antara manusia melawan binatang dalam alam Afrika yang liar, sebuah karya yang memukau, masterpiece Mahar. Nuansa karnaval semakin tebal menggantung di awan Belitong Timur. Hari H semakin dekat. Seluruh sekolah sibuk dengan berbagai latihan. Marching band sekolah PN sepanjang sore melakukan geladi sepanjang jalan kampung. Baru latihannya saja penonton sudah membludak. Meneror semangat peserta lain.

Tapi kami tak gentar. Situasi moril kami sedang tinggi. Melihat kepemimpinan, kepiawaian, dan gaya Mahar kepercayaan diri kami meletup-letup. Ia tampil laksana para event organizer atau para seniman, atau mereka yang menyangka dirinya seniman. Pakaiannya serba hitam dengan tas pinggang berisi walkman, pulpen, kacamata hitam, batu baterai, kaset, dan deodoran. Kami mengerahkan seluruh sumber daya civitas akademika Muhammadiyah. Latihan kami semakin serius dan yang paling sering membuat kesalahan adalah Kucai. Meskipun dia ketua kelas tapi di panggung sandiwara ini Maharlah yang berkuasa. Mahar mencoba menjelaskan maksudnya dengan berbagai cara. Kadang-kadang ia demikian terperinci seperti buku resep masakan, dan lebih sering ia merasa frustrasi. Namun, kami sangat patuh pada setiap perintahnya walaupun kadang-kadang tidak masuk akal. Tapi ini seni, Bung, tak ada hubungannya dengan logika.

“Dalam tarian ini kalian harus mengeluarkan seluruh energi dan harus tampak gembira! Bersukacita seperti karyawan PN baru terima jatah kain, seperti orang Sawang dapat utangan, seperti para pelaut terdampar di sekolah perawat!”

Aku sungguh kagum dari mana Mahar menemukan kata-kata seperti itu. Ketika istirahat A Kiong berbisik pada Samson, “Son, aku baru tahu kalau di Belitong ada sekolah perawat di pinggir laut?”

Rupanya bisikan polos itu terdengar oleh Sahara yang kemudian, seperti biasa, merepet panjang mencela keluguan A Kiong,

“Apa kau tak paham kalau itu perumpamaan! Banyak-banyaklah membaca buku sastra!”

Bab 19

Перейти на страницу:

Все книги серии Laskar Pelangi

Похожие книги