Beberapa siswa memikul kerangka besar tulang belulang ikan paus, membawa tanduk rusa, membalut dirinya dengan kulit buaya, dan menuntun beruk peliharaan — tak jelas apa maksudnya. Seorang siswa tampak berpakaian rapi, memakai sepatu hitam, celana panjang warna gelap, ikat pinggang besar, baju putih lengan panjang dan menenteng sebuah tas koper besar. Siswa ajaib ini adalah Harun. Tak jelas profesi apa yang diwakilinya. Di mataku dia tampak seperti orang yang diusir mertua.

Demikianlah karnaval kami setiap tahun. Tak melambangkan cita-cita. Mungkin karena kami tak berani bercita-cita. Setiap siswa disarankan memakai pakaian profesi orangtua karena kami tak punya biaya untuk membuat atau menyewa baju karnaval. Semuanya adalah wakil profesi kaum marginal. Maka dalam hal ini Kucai juga berpakaian rapi seperti Harun dan ia melambai-lam-baikan sepucuk kartu pensiun kepada para penonton sebab ayahnya adalah pensiunan. Sedangkan beberapa adik kelasku terpaksa tidak bisa mengikuti karnaval karena ayahnya pengangguran. Satu-satunya daya tarik karnaval kami adalah Mujis. Meskipun bukan murid Muhammadiyah namun tukang semprot nyamuk ini selalu ingin ikut. Dengan dua buah tabung seperti penyelam di punggungnya dan topeng yang berfungsi sebagai kacamata dan penutup mulut seperti moncong babi, ia menyemprotkan asap tebal dan anak-anak kecil yang menonton di pinggir jalan berduyunduyun mengikutinya.

Jika melewati podium kehormatan, biasanya kami berjalan cepat-cepat dan berdoa agar parade itu cepat selesai. Nyaris tak ada kesenangan karena minder. Hanya Harun, dengan koper zaman The Beatles-nya tadi yang melenggang pelan penuh percaya diri dan melemparkan senyum penuh arti kepada para petinggi di podium kehormatan. Mungkin dalam hati para tamu terhormat itu bertanya-tanya,

“Apa yang dilakukan anak-anak bebek ini?”

Kenyataan inilah yang memicu pro dan kontra di antara murid dan guru Muhammadiyah setiap kali akan karnaval. Beberapa guru menyarankan agar jangan ikut saja daripada tampil seadanya dan bikin malu. Mereka yang gengsian dan tak kuat mental seperti Sahara jauh-jauh hari sudah menolak berpartisipasi. Maka sore ini, Pak Harfan, yang berjiwa demokratis, mengadakan rapat terbuka di bawah pohon fillicium. Rapat ini melibatkan seluruh guru dan murid dan Mujis. Beliau diserang bertubi-tubi oleh para guru yang tak setuju ikut karnaval, tapi beliau dan Bu Mus berpendirian sebaliknya. Suasana memanas. Kami terjebak di tengah.

“Karnaval ini adalah satu-satunya cara untuk menunjukkan kepada dunia bahwa sekolah kita ini masih eksis di muka bumi ini. Sekolah kita ini adalah sekolah Islam yang mengedepankan pengajaran nilai-nilai religi, kita harus bangga dengan hal itu!”

Suara Pak Harfan bergemuruh. Sebuah pidato yang menggetarkan. Kami bersorak sorai mendukung beliau. Tapi tak berhenti sampai di situ.

“Kita harus karnaval! Apa pun yang terjadi! Dan biarlah tahun ini para guru tidak ikut campur, mari kita beri kesempatan kepada orang-orang muda berbakat seperti Mahar untuk menunjukkan kreativitasnya, tahukah kalian ... dia adalah seniman yang genius!”

Kali ini tepuk tangan kami yang bergemuruh, gegap gempita sambil berteriakteriak seperti suku Mohawk berperang. Pak Harfan telah membakar semangat kami sehingga kami siap tempur. Kami sangat mendukung keputusan Pak Harfan dan sangat senang karena akan digarap oleh Mahar, teman kami sekelas. Kami mengeluelukannya, tapi ia tak tampak. Ooh, rupanya dia sedang bertengger di salah satu dahan filicium. Dia tersenyum.

Sebagai kelanjutan keputusan rapat akbar, Mahar serta-merta mengangkat A Kiong sebagai General Affair Assistant, yaitu pembantu segala macam urusan. A Kiong mengatakan padaku tiga malam dia tak bisa tidur saking bangganya dengan penunjukan itu. Dan telah tiga malam pula Mahar bersemadi mencari inspirasi. Tak bisa diganggu.

Kalau masuk kelas Mahar diam seribu bahasa. Belum pernah aku melihatnya seserius ini. Ia menyadari bahwa semua orang berharap padanya. Setiap hari kami dan para guru menunggu dengan was was konsep seni kejutan seperti apa yang akan ia tawarkan. Kami menunggu seperti orang menunggu buku baru Agatha Christie. Jika kami ingin berbicara dengannya dia buru-buru melintang-kan jari di bibirnya menyuruh kami diam. Menyebalkan! Tapi begitulah seniman bekerja. Dia melakukan semacam riset, mengkhayal, dan berkontemplasi.

Перейти на страницу:

Все книги серии Laskar Pelangi

Похожие книги