Dia duduk sendirian menabuh tabla2, mencari-cari musik, sampai sore di bawah filicium. Tak boleh didekati. Ia duduk melamun menatap langit lalu tiba-tiba berdiri, mereka-reka koreografi, berjingkrak-jingkrak sendiri, meloncat, duduk, berlari berkeliling, diam, berteriak-teriak seperti orang gila, menjatuhkan tubuhnya, berguling-guling di tanah, lalu dia duduk lagi, melamun berlama-lama, bernyanyi tak jelas, tiba-tiba berdiri kembali, berlari ke sana kemari. Tak ada ombak tak ada angin ia menyeruduk-nyeruduk seperti hewan kena sampar. Apakah ia sedang menciptakan sebuah masterpiece? Apakah ia akan berhasil membuktikan sesuatu pada event yang mempertaruhkan reputasi ini? Apakah ia akan berhasil membalikkan kenyataan sekolah kami yang telah dipandang sebelah mata dalam karnaval selama dua puluh tahun? Apakah ia benar-benar seorang penerobos, seorang pendobrak yang akan menciptakan sebuah prestasi fenomenal? Haruskan ia menanggung beban seberat ini? Bagaimanapun ia masih tetap seorang anak kecil.

Kuamati ia dari jauh. Kasihan sahabatku seniman yang kesepian itu, yang tak mendapatkan cukup apresiasi, yang selalu kami ejek. Wajahnya tampak kusut semrawut. Sudah seminggu berlalu, ia belum juga muncul dengan konsep apa pun.

Lalu pada suatu Sabtu pagi yang cerah ia datang ke sekolah dengan bersiul-siul. Kami paham ia telah mendapat pencerahan. Jinjin telah meraupi wajah kucel kurang tidurnya dengan ilham, dan Dionisos, sang dewa misteri dan teater, telah meniup ubunubunnya subuh tadi. Ia akan muncul dengan ide seni yang seksi. Kami sekelas dan banyak siswa dari kelas lain serta para guru merubungnya. Ia maju ke depan siap mempresentasikan rencananya. Wajahnya optimis.

Semua diam siap mendengarkan. Ia sengaja mengulur waktu, menikmati ketidaksabaran kami. Kami memang sudah sangat penasaran. Ia menatap kami satu per satu seperti akan memperlihatkan sebuah bola ajaib bercahaya pada sekumpulan anak kecil.

“Tak ada petani, buruh timah, guru ngaji, atau penjaga pintu air lagi utnuk karnaval tahun ini!” teriaknya lantang, kami terkejut. Dan ia berteriak lagi.

“Semua kekuatan sekolah Muhammadiyah akan kita satukan untuk satu hal!!!”

Kami hanya terperangah, belum mengerti apa maksudnya, tapi Mahar optimis sekali.

“Apa itu Har? Ayolah, bagaimana nanti kami akan tampil, jangan bertele-tele!” tanya kami penasaran hampir bersamaan. Lalu inilah ledakan ide gemilangnya.

“Kalian akan tampil dalam koreografi massal suku Masai dari Afrika!”

Kami saling berpandangan, serasa tak percaya dengan pendengaran sendiri. Ide itu begitu menyengat seperti belut listrik melilit lingkaran pinggang kami. Kami masih kaget dengan ide luar biasa itu ketika Mahar kembali berteriak menggelegar melambungkan gairah kami.

“Lima puluh penari! Tiga puluh penabuh tabla! Berputar-putar seperti gasing, kita ledakkan podium kehormatan!”

Oh, Tuhan, aku mau pingsan. Serta-merta kami melonjak girang seperti kesurupan, bertepuk tangan, bersorak sorai senang membayangkan kehebohan penampilan kami nanti. Mahar memang sama sekali tak bisa diduga. Imajinasinya liar meloncat-loncat, mendobrak, baru, dan segar.

“Dengan rumbai-rumbai!” kata suara keras di belakang. Suara Pak Harfan sok tahu. Kami semakin gegap gempita. Wajah beliau sumringah penuh minat.

“Dengan bulu-bulu ayam!” sambung Bu Mus. Kami semakin riuh rendah.

“Dengan surai-surai!”

“Dengan lukisan tubuh!”

“Dengan aksesori!”

Demikian guru-guru lain sambung-menyambung.

“Belum pernah ada ide seperti ini!” kata Pak Harfan lagi. Para guru mengangguk-angguk salut dengan ide Mahar. Mereka salut karena selain kana menampilkan sesuatu yang berbeda, menampilkan suku terasing di Afrika adalah ide yang cerdas. Suku itu tentu berpakaian seadanya. Semakin sedikit pakaiannya — atau dengan kata lain semakin tidak berpakaian suku itu — maka anggaran biaya untuk pakaian semakin sedikit. Ide Mahar bukan saja baru dan yahud dari segi nilai seni tapi juga aspiratif terhadap kondisi kas sekolah. Ide yang sangat istimewa.

Seluruh kalangan di perguruan Muhammadiyah sekarang menjadi satu hati dan mendukung penuh konsep Mahar. Semangat kami berkobar, kepercayaan diri kami meroket. Kami saling berpelukan dan meneriakkan nama Mahar. Ia laksana pahlawan. Kami akan menampilkan sebuah tarian spektakuler yang belum pernah ditampilkan sebelumnya. Dengan suara tabla bergemuruh, dengan kostum suku Masai yang eksotis, dengan koreografi yang memukau, maka semua itu akan seperti festival Rio. Kami sudah membayangkan penonton yang terpeona. Kali ini, untuk pertama kalinya, kami berani bersaing.

Перейти на страницу:

Все книги серии Laskar Pelangi

Похожие книги