Ia memiliki struktur wajah lonjong dengan air muka yang sangat menawan. Hidungnya kecil dan bangir. Garis wajahnya tirus dengan tatapan mata kharismatik menyejukkan sekaligus menguatkan hati, seperti tatapan wanita-wanita yang telah menjadi ibu suri. Jika menerima nasihat dari wanita bermata semacam ini, semangat pria mana pun akan berkobar.
Bajunya ketat dan bagus seperti akan berangkat kondangan, dengan dasar biru dan motif kembang portlandica kecil-kecil berwarna hijau muda menyala. Kerah baju itu memiliki kancing sebesar jari kelingking, tinggi sampai ke leher, merefleksikan keanggunan seorang wanita yang menjaga integritasnya dengan keras. Alisnya indah alami dan jarak antara alis dengan batas rambut di keningnya membentuk proporsi yang cantik memesona. Ia adalah lukisan Monalisa yang ditenggelamkan dalam danau yang dangkal dan dipandangi melalui terang cahaya bulan.
Seperti kebanyakan ras Mongoloid, tulang pipinya tidak menonjol, tapi bidang wajahnya, bangun bahunya, jenjang lehernya, potongan rambutnya, dan jatuh dagunya yang elegan menciptakan keseluruhan kesan dirinya benar-benar mirip Michelle Yeoh, bintang film Malaysia yang cantik itu. Maka terkuaklah rahasia yang tertutup rapi selama bertahun-tahun. Sang pemilik kuku-kuku indah itu ternyata seorang wanita muda cantik jelita dengan aura yang tak dapat dilukiskan dengan cara apa pun.
Kejadian ini membuat pipinya yang putih bersih tiba-tiba memerah dan matanya yang sipit bening seperti ingin menghamburkan air mata. Aku tahu bahwa selain sejuta perasaan tadi yang mungkin sama-sama melanda kami, ia juga merasakan malu tak terkira. Ia bangkit dengan cepat dan membanting pintu tanpa ampun.
Ia tak peduli dengan kapur-kapur itu dan tak peduli padaku yang masih hilang dalam tempat dan waktu.
Suara keras bantingan pintu itu membuatku siuman dari sebuah pesona yang memabukkan dan menyadarkan aku bahwa aku telah jatuh cinta. Aku limbung, kepalaku pening dan pandangan mataku berkunang-kunang karena syok berat. Beberapa waktu berlalu aku masih terduduk terbengong-bengong bertumpu di atas lututku yang gemetar. Aku mencoba mengatur napas dan darahku berdesir menyelusuri seluruh tubuhku yang berkeringat dingin. Aku baru saja dihantam secara dahsyat oleh cinta pertama pada pandangan yang paling pertama. Sebuah perasaan hebat luar biasa yang mungkin dirasakan manusia.
Aku berupaya keras bangun dan ketika aku menoleh ke belakang, orang-orang di sekelilingku, Syahdan yang menghampiriku, A Miauw yang menunjuk-nunjuk, orang-orang bersarung yang pergi beriringan, dan kuli-kuli Sawang yang terhuyunghuyung karena beban pikulannya, mereka semuanya, seolah bergerak seperti dalam slow motion, demikian indah, demikian anggun. Bahkan para uli panggul yang memilikul karung jengkol tiba-tiba bergerak penuh wibawa, santun, lembut, dan berseni, seolah mereka sedang memperagakan busana Armani yang sangat mahal di atas catwalk. Aku tak peduli lagi dengan kotak kapur yang isinya tinggal setengah. Aku berbalik meninggalkan toko dan merasa kehilangan seluruh bobot tubuh dan beban hidupku. Langkahku ringan laksana orang suci yang mampu berjalan di atas air. A ku menghampiri sepeda reyot Pak Harfan yang sekarang terlihat seperti sepeda keranjang baru. Aku dihinggapi semacam perasasaan bahagia yang aneh, sebuah rasa bahagia bentuk lain yang belum pernah kualami sebelumnya. Rasa bahagia ini melebihi ketika aku mendapat hadiah radio transistor 2-band dari ibuku sebagai upah mau disunat tempo hari.
Ketika mempersiapkan sepeda untuk pulang, aku mencuri pandang ke dalam toko. Kulihat dengan jelas Michele Yeoh mengintipku dari balik tirai keong itu. Ia berlindung, tapi sama sekali tak menyembunyikan persaaannya. Aku kembali melayang menembus bintang gemerlapan, menari-nari di atas awan, menya-nyikan lagu nostalgia Have I Told You Lately That I Love You. Aku menoleh lagi ke belakang, di situ, di antara tumpukan kemiri basah yang tengik, kaleng-kaleng minyak tanah, dan karung-karung pedak cumi aku telah menemukan cinta.
Kutatap Syahdan dengan senyum terbaik yang aku memiliki — ia membalas dengan pandangan aneh — lalu kuangkat tubuhnya yang kecil untuk mendudukkannya di atas sepeda. Aku ingin, degnan gemira, mengayuh sepeda itu, membonceng Syahdan, mengantarnya ke tempat-tempat di mana saja di jagad raya ini yang ia inginkan. Oh, inilah rupanya yang disebut mabuk kepayang!
Dalam perjalanan pulang aku dengan sengaja melanggar perjanjian. Setelah kuburan Tionghoa aku tak meminta Syahdan menggantikanku. Karena aku sedang bersukacita. Seluruh energi positif kosmis telah memberiku kekuatan ajaib. Semua terasa adil kalau sedang jatuh cinta. Cinta memang sering membuat perhitungan menjadi kacau. Sepanjang perjalanan aku bersiul dengan lagu yang tak jelas. Lagu tanpa harmoni; lagu yang belum pernah tercipta, karena yang menyanyi bukan mulutku, tapi hatiku. Jika sedang tak bersiul di telingaku tak henti-henti berkumandang lagu All I Have to Do is Dream.