Seusai pelajaran aku dan Syahdan dipanggil Bu Mus untuk mempertanggungjawabkan kapur yang kurang. Aku diam meatung, tak mau berdusta, tak mau menjawab apa pun yang ditanyakan, dan tak mau membantah apa pun yang dituduhkan. Aku siap menerima hukuman seberat apa pun — termasuk jikalau harus mengambil ember yang kemarin dijatuhkan Trapani di sumur horor itu. Saat itu yang ada di pikiranku hanyalah Michele Yeoh, Michele Yeoh, dan Michele Yeoh, serta detik-detik ketika cinta menyergapku tadi. Hukuman yang kejam hanya akan menambah sentimentil suasana romantis di mana aku rela masuk sumur maut dunia lain sebagai pahlawan cinta pertama .... Ah! Cinta ...
Benar saja hukumannya seperti kuduga. Sebelum turun ke dalam sumur sempat kulihat Bu Mus menginterogasi Syahdan yang mengangkat-angkat bahunya yang kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya, dan menyilangkan jarinya di kening. “Hah! Ia menuduhku sudah sinting ...?”
Bab 18
BARU kali ini Mahar menjadi penata artistik karnaval, dan karnaval ini tidak main-main, inilah peristiwa besar yang sangat penting, karnaval 17 Agustus. Sebenarnya guru-guru kami agak pesimis karena alasan klasik, yaitu biaya. Kami demikian miskin sehingga tak pernah punya cukup dana untuik membuat karnaval yang representatif. Para guru juga merasa malu karena parade kami kumuh dan itu-itu saja. Namun, ada sedikit harapan tahun ini. Harapan itu adalah Mahar. Karnaval 17 Agustus sangat potensial untuk meningkatkan gengsi sekolah, sebab ada penilaian serius di sana. Ada kategori busana terbaik, parade paling megah, peserta paling serasi, dan yang paling bergengsi: penampil seni terbaik. Gengsi ini juga tak terlepas dari integritas para juri yang dipimpin oleh seorang seniman senior yang sudah kondang, Mbah Suro namanya. Mbah Suro adalah orang Jawa, ia seniman Yogyakarta yang hijrah ke Belitong karena idealisme berkeseniannya. Karena sangat idelais maka tentu saja Mbah Suro juga sangat melarat. Seperti telah diduga siapa pun, seluruh kategori — mulai dari juara pertama sampai juara harapan ketiga — selalu diborong sekolah PN. Kadang-kadang sekolah negeri mendapat satu dua sisa juara harapan. Sekolah kampung tak pernah mendapat penghargaan apa pun karena memang tasmpil sangat apa adanya. Tak lebih dari penggembira. Sekolah-sekolah negeri mampu menyewa pakaian adat lengkap sehingga tampil memesona. Sekolah-sekolah PN lebih keren lagi. Parade mereka berlapis-lapis, paling panjang, dan selalu berada di posisi paling strategis. Barisan terdepan adalah puluhan sepeda keranjang baru yang dihias berwarna-warni. Bukan hanya sepedanya, pengendaranya pun dihias dengan pakaian lucu. Lonceng sepeda dibunyikan dengan keras bersama-sama, sungguh semarak. Pada lapisan kedua berjejer mobil-mobil hias yang dindandani berbentuk perahu, pesawat terbang, helikopter, pesawat ulang alik Apollo, taman bunga, rumah adat Melayu, bahkan kapal keruk. Di atas mobil-mobil ini berkeliaran putri-putri kecil berpakaian putih bersih, bermahkota, dengan rok lebar seperti Cinderella. Putri-putri peri ini membawa tongkat berujung bintang, melambai-lambaikan tangan pada para penonton yang bersukacita dan melempar-lemparkan permen. Setelah parade mobil hias muncullah barisan para profesional, yaitu para murid yang berdandan sesuai dengan cita-cita mereka. Banyak di antara mereka yang berjubah putih, berkacamata tebal, dan mengalungkan stetoskop. Tentulah anak-anak ini nanti jika sudah besar ingin jadi dokter.
Ada juga para insinyur dengan pakaian overall dan berbagai alat, seperti test pen, obeng ,dan berbagai jenis kunci. Beberapa siswa membawa buku-buku tebal, mikroskop, dan teropong bintang karena ingin menjadi dosen, ilmuwan, dan astronom. Selebihnya berseragam pilot, pramugari, tentara, kapten kapal, dan polisi, gagah sekali. Guru-gurunya — di bawah komando Ibu Frischa — tampak sangat bangga, mengawal di depan, belakang, dan samping barisan, masing-masing membawa handy talky.